Multiple Sclerosis

Nyeri dan Kebas Berkepanjangan? Waspadai Ini Tanda Awal Penyakit Multiple Sclerosis

Nyeri dan Kebas Berkepanjangan? Waspadai Ini Tanda Awal Penyakit Multiple Sclerosis
Nyeri dan Kebas Berkepanjangan? Waspadai Ini Tanda Awal Penyakit Multiple Sclerosis

JAKARTA - Nyeri yang datang dan pergi, kebas pada tubuh, atau rasa lemah yang dianggap sepele sering kali dipahami sebagai kelelahan biasa.

Namun dalam sejumlah kasus, keluhan tersebut dapat menjadi sinyal awal gangguan saraf serius yang tidak tampak dari luar. Salah satunya adalah multiple sclerosis (MS), penyakit autoimun yang kerap luput terdeteksi karena gejalanya samar dan muncul bertahap.

Banyak penderita MS tidak langsung menyadari kondisi yang mereka alami. Gejalanya dapat hilang sementara, lalu muncul kembali di waktu berbeda, sehingga kerap dianggap sebagai masalah kesehatan ringan. Padahal, jika tidak dikenali sejak dini, MS berpotensi memengaruhi kualitas hidup secara signifikan.

Dilansir dari Mayo Clinic, multiple sclerosis merupakan penyakit autoimun yang menyerang sistem saraf pusat dengan merusak myelin, lapisan pelindung saraf. Kerusakan ini mengganggu komunikasi antara otak dan seluruh bagian tubuh, sehingga memicu berbagai gangguan fisik maupun kognitif.

Multiple Sclerosis dan Gangguan Sistem Saraf

Pada penderita MS, sistem imun yang seharusnya melindungi tubuh justru menyerang myelin. Akibatnya, impuls saraf tidak dapat berjalan optimal. Kondisi ini menyebabkan berbagai gejala, mulai dari mati rasa hingga gangguan penglihatan dan keseimbangan.

MS termasuk penyakit yang tidak kasat mata. Secara fisik, penderitanya dapat terlihat sehat, padahal di dalam tubuhnya sedang terjadi peradangan dan kerusakan saraf. Inilah yang membuat MS kerap sulit didiagnosis, terutama pada tahap awal.

Kerusakan saraf yang berlangsung perlahan juga membuat gejala MS sering disalahartikan sebagai stres, kelelahan, atau dampak kurang tidur. Padahal, gangguan ini membutuhkan perhatian medis jangka panjang.

Ragam Tipe Multiple Sclerosis yang Perlu Diketahui

Menurut National Institute of Neurological Disorders and Stroke, MS memiliki beberapa tipe dengan karakteristik berbeda. Tipe pertama adalah clinically isolated syndrome, yakni kondisi ketika gejala muncul dalam satu serangan tunggal lalu diikuti pemulihan. Tes MRI, pungsi lumbal, atau tes penglihatan elektrik dapat membantu mengidentifikasi kerusakan saraf dan memastikan diagnosis.

Tipe yang paling umum adalah relapsing-remitting MS. Pada kondisi ini, penderita mengalami serangan gejala berulang yang kemudian membaik secara total atau sebagian. Masa tidak aktif di antara serangan disebut remisi, yang dapat berlangsung selama minggu hingga bertahun-tahun. Terapi modifikasi penyakit sering digunakan untuk mengurangi frekuensi serangan.

Seiring waktu, sebagian penderita dapat mengalami secondary-progressive MS, yakni fase lanjutan dari tipe sebelumnya. Gejala menjadi lebih stabil dan progresif, meski serangan masih mungkin terjadi. Terapi tetap dapat membantu memperlambat perkembangan penyakit.

Sementara itu, primary-progressive MS tergolong jarang dan ditandai dengan perburukan gejala secara bertahap sejak awal tanpa pola serangan yang jelas. Ada pula radiologically isolated syndrome, tipe paling langka, di mana hasil MRI menunjukkan gambaran MS meski belum muncul gejala klinis.

Gejala Awal hingga Lanjutan yang Sering Terabaikan

Gejala MS sangat bervariasi pada tiap individu. Pada tahap awal, penderita dapat mengalami gangguan penglihatan akibat peradangan saraf optik, yang disertai nyeri mata dan penurunan kemampuan melihat.

Keluhan lain meliputi melemahnya otot, terutama di lengan dan kaki, yang disertai kekakuan serta nyeri. Mati rasa atau kesemutan dapat menjalar ke wajah, tangan, dan kaki. Beberapa penderita juga mengalami kesulitan menjaga keseimbangan dan koordinasi tubuh.

Masalah pada kandung kemih, seperti sulit menahan buang air kecil, serta rasa pusing juga kerap muncul. Seiring perkembangan penyakit, penderita dapat merasakan kelelahan fisik dan mental yang berat, gangguan emosi seperti depresi, hingga penurunan kemampuan kognitif, termasuk sulit berkonsentrasi dan mengingat.

Dilansir dari Cleveland Clinic, keberadaan periode remisi membuat MS semakin sulit dikenali. Tidak sedikit penderita yang merasa sehat selama bertahun-tahun dan tidak menyadari bahwa mereka mengidap MS.

Faktor Risiko dan Penyebab Multiple Sclerosis

Penyebab pasti MS hingga kini belum diketahui. Namun para ahli sepakat bahwa penyakit ini berkaitan dengan respons imun yang keliru terhadap myelin. Pemeriksaan MRI dapat menunjukkan bekas luka, plak, atau lesi sebagai tanda kerusakan saraf.

Beberapa faktor diduga berkontribusi terhadap berkembangnya MS, antara lain kebiasaan merokok, paparan racun, rendahnya kadar vitamin D, paparan virus tertentu, obesitas pada masa kanak-kanak, serta faktor genetika.

Kelompok yang paling rentan terhadap MS adalah individu keturunan Eropa Utara, berusia 20–40 tahun, dan lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki.

Penanganan dan Upaya Mengelola Gejala

Hingga saat ini, belum tersedia obat yang dapat menyembuhkan MS sepenuhnya. Meski demikian, berbagai terapi tersedia untuk mengurangi gejala, memperlambat progresivitas penyakit, dan mencegah komplikasi.

Dokter biasanya merekomendasikan kombinasi pengobatan, terapi fisik, serta konseling kesehatan mental. Selain itu, alat bantu seperti kacamata khusus, tongkat jalan, kursi roda, hingga stimulasi otak dapat membantu meningkatkan kualitas hidup penderita.

Pada kasus tertentu, donor plasma dapat direkomendasikan jika tubuh pasien tidak merespons pengobatan secara optimal. Dengan penanganan yang tepat dan pemantauan rutin, penderita MS tetap memiliki peluang menjalani kehidupan yang produktif.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index